Kendaraan seperti motor atau mobil sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia yang tidak bisa dilepaskan dari aktivitasnya sehari-hari. Dengan penuh setia mereka mengantarkan kita ke manapun yang kita mau. Dan sebagai balasannya tidak lupa kita memberi mereka ‘makan’ dan melakukan maintenance secara rutin. sederhana sekali. Tapi ternyata ada beberapa sisi psikologi dari kendaraan yang sering muncul, entah karena sisi teknis ato sisi ‘ghaib’, dan sisi ini terkadang perlu kita perhatikan karena seharusnya kita menganggap mereka sebagai sahabat atau partner perjuangan :D

Mobil pertama keluarga saya adalah su*uki viTAra keluaran tahun 1993, dibeli bapak secara secodhand tahun 1999. Mobil yang cukup prima untuk segala medan, terutama medan Purwodadi dan pelosoknya yang sanngat menantang untuk offroad. cukup nyaman untuk keluarga kecil dengan bagasi yang cukup lebar di belakang. Singkat kata, keluarga saya sangat menyayangi dia sehingga dia sangat ‘betah’ menjadi bagian keluarga kami. Tapi ada kejadian unik, mobil ini selalu rewel kalo dibawa berjalan ke arah barat, it means ke arah Jakarta. Pernah seketika saya berdua ama Bapak ke Jakarta naek vitara, eh baru nyampe Pemalang per kawat pedal gas jebol sehingga gabisa digas tuh mobil. ya akhirnya ngebengkel dulu, untung msh sampe Jakarta, di sana pun cuma puter2 aja benerin mobil. Trus pernah juga kecelakaan di daerah Ambarawa, pintu ke-lock smua di Magelang, dsb. intinya kata bapak-ibu sih nih mobil ga mau dibalikin ke Jakarta. Dan skitar 2008, saat keluarga saya mulai menabung untuk beli mobil bar, si vitara mulai ngambek2, dari yg susah distarter, AC mati, jendela macet dsb. dan akhirnya dijual lagi,,hm,,smoga km bahagia di sana.

Kendaraan saya yang lain adalah si suprii (supr*-itemijo)kluarang taun 2000. Motor yang sudah menemani saya sejak SMP sampe SMA (walo sempet putus 6 bulan krna ‘tergoda’ Sho*un merah) dan balik lagi sejak di bandung sampe sekarang. cukup bandel di jalan lurus tapi letoy di tanjakan :p. Ini motor juga penuh jiwa ‘mistis’, pasti ada aja bikin masalah kalo udah lama gak dicuci, ato barusan gara2 diparkir 2 malem di parkir ITB, eh si dia masuk angin..ampe mogok n harus di tuntun buat cari bensin n bengkel. ya untungnya gak ngambek gara2 udah hampir setahun tuh motor gak punya KTP :D

Kalo temen2 pernah nnton Avatar the Movie mungin inget pas adegan si JakeSully ketemu dngan suku-yang-warnanya-biru2-aneh trus diajarin naek kuda ama naek burung, di mana si pengendaranya harus mempunyai bond atau ikatan dengan tunggangannya, mugkin begitu pula kita dengan mobil atau motor kita. Kita harus mampu merasakan pula apa yang dia rasakan. Saat dia lelah mesin kepanasan karena kita ajak jalan jauh, mungkin dia perlu istirahat. Saat tanjakan dan suara mesinnya menjerit dan rantainya berderit, mungkin kita perlu bersabar. Saat badannya pnuh lumpur mungkin perlu segera kita mandikan. Saat kita parkir dia di luar ruangan dan kehujanan, dia mungkin masuk angin dan perlu kita amankan. Saat waktunya di lapar atau haus ya dikasih makan. dan tentu saja maintenance rutin dan menyeluruh.

Yup, driving or riding itu sangat menyenangkan apalgi disertai dengan kondisi pengendara dan kendaraan yang fit. So, kendaraan adalah teman^^

hilang lagi momentum

hilang lagi kesempatan

tapi kesempatan tidak datang sendiri

dan momentum juga tidak datang sendiri

mari kita ciptakan

[H-12 pendaftaran sidang untuk wisuda April'10]

[H-22 batas akhir pengumpulan draft tugas akhir untuk wisuda April'10]

[H-40 batas akhir sidang untuk wisuda April'10]

“..sebuah negara tidak akan kekurangan pemimpin selama anak mudanya masih ada yang suka naik gunung..” (Soekarno)

-eh bener ga sih soekarno yg bilng?-

entah kenapa beberapa bulan ini ingin menantang alam, mencari limit dan batas dari kemampuan diri. ada rasa puas setelah menaklukkan tantangan tersebut. sebuah hal yang kiranya masih sedikit ‘manja’ dari diriku ini yang merasa kurang mendapat tantangan berlebih. Padahal hidupku dngan segala kompleksitasnya sudah cukup membebani. tapi entah kenapa…

aku bukan pendaki gunung yang baik. agak kurang di fisik dan stamina, salah sendiri sih jarang olahraga. cepet ngos2an apalgi untuk jalur pendakian kek gitu. blum lagi kaki kiri-ku sering bermasalah. tapi aku suka hiking n trekking, berjalan santai melintasi alam..menikmati indahnya ciptaan Allah..

hm, kapan ya?

28 februari—> Progo river grade 5+ (FYI, serayu kmrn cuman 3-4 gradenya)

Maret —> mungkin di Bromo

6-7 Maret —> berani gak ke Papandayan?huff…

Kapan ke Gede?

Bismillah..

Beberapa waktu yang lalu 2 sms masuk ke inbox 5310-ku,pertama dari nomer tidak dikenal, yg kdua dari pak presiden KM-ku..isinya sama, mengajak untuk ikut aksi pada 28 Januari 2010 nanti.

momennya jelas yakni 100 hari pemerintahan SBY jilid II. malamnya aku bimbang,mungkin bisa dibaca di sini, ato lewat status2 fesbukku malam itu, untungnya sedang ada di warnet dengan koneksi

yang cukup bagus, niat buat ngambil data TA pun teralihkan (begitu pula pagi ini,malah bikin note curcol :D ),oprek2 milis ngliat ada standing statement dari KM ITB,hm,,ntarh knapa berasa kurang pas

walo aku pun ga mau membantahnya krena memang kenyataanya seperti itu. Sercing2 lg buat nyari apa aja program 100 hari SBY-boediono ini,,SUSAH!gugling isinya banyak tentang pendapat para

komentator politik saja. untuk mencari dokumen resminya cem mencari jarum dalam jerami..yang officially baru mendapat dan cukup jelas statement programnya hanyalah Depkumham dan Depkes.
Sercing2 sampe pasang status facebook, akhirnya ada yang bantu buat ndapetin 15 program utama 100 hari KIB-2,antara lain:
1. Pemberantasan Mafia Hukum
2. Melakukan Revitalisasi Industri PErtahanan
3. Penanggulangan Terorisme
4. Mengatasi permasalahan listrik
5. Meningkatkan produksi dan ketahanan pangan
6. revitalisasi pabrik pupuk dan gula
7. membenahi kompleksitas penggunaan tanah dan tata ruang
8. peningkatan infrastruktur
9. meningkatkan pinjaman usama mikro, kecil dan menengah yg dikaitkan dengan kredir usaha rakyat
10.
11. mengenai pendanaan, masih harus memobilisasi pembiayaan di luar APBN-APBD
12. menanggulangi perubahan iklim dan lingkungan
13. melakukan reformasi kesehatan dengan mengubah paradigma masyarakat
14. reformasi pendidikan dengan menyambungkan atau mencegah missmatch antara yg dihasilkan oleh lembaga pendidikan dengan keperluan tenaga kerja
15. kesiapsiagaan dalam penanggulangan bencana alam dengan melakukan kordinasi yg erat antara pemerintah pusat dan daerah dalam pembangunan di segala bidang.

Umumnya para pengamat akan melakukan analisis dari kondisi terkini yang ada di masyarakat, entah itu dari pengamatannya langsung ato hasil dari media. Dan mungkin di sini akan dicoba

menggunakan pendekatan baru, yakni apa yang dirasakan-diamati-dihadapi oleh penulis sendiri dalam 100 hari terakhir pemerintahan SBY. benar2 berdasarkan fakta penulis di lapangan, tidak dari

pendapat media.

1. Pemberantasan Mafia Hukum
=> Walopun ada kerabat yang bekerja di bidang hukum, ternyata saya tidak banyak berurusan dengan hukum dalam beberapa bulan ini. yg bener2 fakta saya amati sendiri (walo di tipi sih) ya tentu

saja kasus penjara mewah si ayin n si alin.,ga tau juga siapa yang disalahkan. sang kepala lapas pastinya, tapi bukankah hal ini sudah berlangsung sejak lama?
klo kasus KPK n antasari no komen dulu lah, banyak pemelintiran, kita amati yg pasti2 aja,yg kita rasain sendiri.

2. Melakukan Revitalisasi Industri PErtahanan
=> tidak merasakan dampak langsung

3. Penanggulangan Terorisme
=> tidak merasakan dampak langsung

4. Mengatasi permasalahan listrik
=> bulan lalu, akhir tahun..entah kenapa jadi sering mati lampu kadang pagi ampe siang, tak jarang pula malem mpe pagi.jadi gak bisa ngerjain TA deh (pembenaran :p). tapi ini unik, seumur2 di

Bandung, mati lampu di kosan saya biasanya cuman gara2 kelebihan beban, maklm dulu banyak yg pke PC di kosan. tapi sekarang bukan karena itu lagi,kesian juga mas-mas tukang warnet tetangga

saya yg gabisa kerja dan mungkin kerjaan lain yg orla bisa lakukan dngan listrik. tapi alhamdulillah 1 bulan terakhir kosan sya relatif normal mslh listriknya..apa berarti sudah berhasil mengatasi

masalah lsitrik?ya setidaknya di kosan saya :D
(more…)

bingung..

barusan di-sms buat ikutan demo 100hari SBY..ada beberapa hal yg masih ngganjel:

1. apa aja sih program 100 hari SBY?klo emg dirasa2in emg ga begitu terasa, tapi ntah knpa jd penasaran ama prokernya SBY ini…harusnya poroker ini kn yg jadi dasar penilaian

2. udah baca standing statement dari organisasi yg ngajak saya buat demo, tp koq asa gak memenuhi poin 1 di atas ya?

3. pemakzulan ato mosi tidak percaya..so what next?jgn sampe kek 98..soeharto turun tapi setelahnya klo kuliat sih reformis bingung mo apa,dan jadinya ya kek gini lagi

saya sebenernya pendukung kritik ke pemerintah,,tapi ntah knpa masih ada yg kurang dgn cara ini,ntah sih baru sempet mikir sekarang mungkin,,blum gugling2 lg

Judul yg aneh.bukan berunsur politis lho, terkait dengan dekalarasi Road to 2028: Jateng 1 beberapa waktu yg lalu :ngaco: , tapi memang ingin menulis tentang bagian lain dari provinsi tempat saya dibesarkan.

Secara umum, kalo saya boleh menganalisis, Jateng memang terbagi jadi beberapa wilayah dengan karakteristik yg berbeda-beda. antara lain:

1. Jateng pantura

meliputi jalur pantura dari batang-tegal-pekalongan-kendal,yang bertipe daerah pesisir dengan mayoritas yang dapat dilihat adalah potensi pesisirnya karena memang terletak di tepi pantai. dengan karakteristik ke selatan merupakan daerah pertanian juga. karakter sosial masyakat agak keras khas pesisir dengan dialog ngapak ala tegal yang terkenal. beberapa kuliner khas adalah warteg, olahan tauco, olahan laut dsb.

2. jateng area semarang

sebenarnya agak unik karena ini merupakan area sempit yng menghubungkan ibukota provinsi jateng ke bagian selatan. karakteristik metropolitan mulai nampak karena semarang merupakan kota yg cukup besar degnan daerah satelit di sekitarnya seperti ungaran, salatiga, dan ambarawa. kebanyakan bergerak di bidang jasa dengan banyaknya resto di sepanjang jalan. area ini berada di kaki gunung ungaran yang subur dengan phon2 buahnya seperti durian, klengkeng dan rambutan serta sentra sayuran untuk suplai di beberapa wilayah sekitarnya. karakter masyarakatnya lebih modern, cukup berpendidikan, etnis tertentu menguasai perdagangan.

3. jateng pulau muria

menurut Slamet Mulyana (1986), konon katanya dulu di pulau jawa selain madura ada pulau besar bernama pulau muria yang kemudian karena proses sedimentasi akhrinnya bergabung dengan pulau jawa induk. bukti bahwa ini memang terjadi adalah adanya peta kuno yang ditemukan ahli sejarah. begitu pula dapat dilihat karakter tanah di wilayah penghubung yang rendah dengan airlaut. serta adanya fenomena air asin di tengah daratan yang jauh dari laut di area tersebut.

ok, back to topic. pulau muria ini terdiri dari beberapa kabupaten, mulai dari demak, kudus,, dan jepara, serta kecamatan juwana. karakter laut dan pesisir terlihat jelas dengan pencaharian masyarakat terutama di daerah juwana yang petani garam dan nelayan. uniknya ada beberpaa industri besar juga di daerah ini, terutama rokok di kudus, dan sentra warehousing di demak sebagai kota satelit semarang. daerah ini terkenal dngan salah satu pusat penyebaran Islam di pulau Jawa, demak dengan masjid agung demak dan kudus dengan menara kudus. serta banyaknya ulama di daerah ini. makanan khas di sini ada yang unik, yakni banyak menggunakan kerbau daripada sapi, konon ini adalah strategi dakwah untuk mngajak masyarakat hindu jaman dulu yg sangat menghormati sapi sebagai hewan sucinya. khas lain di bidang kuliner adalah bumbu merica yang khas pedas-panas, terutama di daerah pesisir dari juwana-lasem.

4. Jateng daerah pohon jati

dinamakan pohon jati karena di daerah inilah sumber phon jati di jawa tengah. meliputi Grobogan-Blora-Rembang-Sragen. daerahnya merupakan pegunungan kapur yang banyak ditumbuhinpohon jati. daerah ini juga sentra pertanian padi dan palawija yg cukup luas. kehidupan masyarakatnya kurang begitu baik, karena standar sumber penghasilan rata-rata masih bertani. makanan pun standar gada yg spesial, kcuali sate kambing blora yg khas. keunikan lain adalah sarana prasarana di area sini yg gak begitu baik, terutama jalan raya, rata2 bergelombang dan mudah rusak. hal ini diakibatkan kontur tanah sedimen yang sangat labipadahal ini menjadi jalur alternatif truk besar yang melewati jateng.

5.jateng wilayah surakarta

to be continued…

ini side story dari perjalanan saya kemaren waktu maen ke dieng trus rafting ke serayu.

Entah kenapa decision process making saya mengarahkann saya untuk memilih naek kereta ekonomi Kahuripan Jogja-Bandung utuk kepulangan ke Bandung sehabis jalan2, padahal dengan segala kisah tragisnya seharusnya membuat saya berpikir ulang untuk naek ini. dari yg sempitlah gak nyaman, banyak copet, desak2an, dilangkahi asongan..demis sebuah KEMURAHAN seharga Rp 25.0000 dan sensasi ngahuripan keknya gak maalah deh sesekali nyobain. terakhir naek ekonomi jalur selatan itu naek prameks(prambanan ekspress) pas lebaran kemaren, dan lebih sering ngeko di jalur utara. secara saya juga sebenernya bukan penggemar kereta.

kalo cerita lain ttg kereta ini keknya ada di sini deh

so, kesimpulannya ada 5 kenikmatan naek kereta Kahuripan:

1. kenikmatan mendapatkan tiket setelah mengantri lama n panjang

2. kenikmatan melihat kereta datang setelah lama menunggu dan telat

3. kenikmatan bisa masuk ke kereta setelah berjubel masuk di pintu kereta

4. kenikmatan bisa mengubah posisi kaki setelah berjam-jam berdiri dengan posisi kaki yg sama pas berjubelan di kereta

5. kenikmatan menyikut tukang asongan yg seenaknya berdesak2an ga keruan pas menjajakan makanan

6. kenikmatan bisa meletakkan pantat di lantai kereta setelah berjam-jam berdiri gak jelas

7. kenikmatan bisa numpang duduk di kursi (akhirnya :p) walo cuman sepertiga pantat :D

8. kenikmatan sampai di stasiun tujuan setelah 12 jam perjalanan jogja-bandung walo telat hampir 3 jam

9. kenikmatan bisa BAB di WC umum tepat setelah turun dari kereta :beer:

hehe…next time naek bus aja deh, ato naek keretanya dr bandung ajah :D

akhir-akhir ini sering pengen pergi ke tempat yg jauh, mencoba kondisi baru. diawali dengan sok2an rafting ke sungai citarik trus jalan2 gak jelas kmana2,sok2an juga ikutan milis indobackpacker, suka jalan ke tempat2 aneh dan indah, merencanakan ke ujungkulon (wlo gagal :cry: ), trus akhir bulan ini mo ke dieng, rafting di serayu, trus awal bulan depan ke pulau sebesi di kep.rakata di selat sunda…dan mungkin ditutup dengan ke lombok di pertengahanMaret. Nadzar pengen umrah pasca sidang pun masih terus berkumandang di telinga.

Pertanda kejenuhan dalam menghadapi rutinitas hidup ato memang sedang banyak duit?:))

kadang rutinitas hidup memang mnejemukan, nyelesein (baca: nongkrongin ) TA, pesbukan, ngurus organisasi, proyek, bisnis, dengan variasi sebanyak itu ternyata masih sering menjemukan juga.Antara perlu tantangan baru dengan kebosanan. pernah suatu ketika diskusi dengan seorang sahabat;bahwa terkadang kita butuh gunung yang tinggi untuk didaki atau laut yg luas untuk disebrangi…saat hidup mulai monoton walopun berasa susah tapi kesulitannya monoton, terkadang tantangan yang jauh lebih besar ternyata siap utuk menunggu dan diselesaikan.

Yap, hiidup hanya sekali, nikmatilah. mumpun masih belum punya buntut, saatnya berpetualang^^

setelah empat tahun yang panjang…insya Allah minggu ini menjadi kuliah terakhirku di ITB…dulu di awal, kuliah pertamaku adalah Bahasa INggris jam 7 pagi hari senin di GKU Barat 9137..nah kuliah terakhir minggu ini sayangnya bukan hari jumat di jam terakhir, tapi ada kuliah tambahan di hari sabtu…sungguh ironis..

overall lumayanlah kuliah di kampus gajah ini, banyak ilmu(thanks to dosen2) dan teman baru (thanks to 2005 TI) dan hal lain yang sungguh berkesan.

semoga bisa segera mengakhiri status mahasiswa ini dengan baik..bismillah..

Suatu ketika, terdapat seorang pemuda di tepian telaga. Ia tampak termenung. Tatapan matanya kosong, menatap hamparan air di depannya. Seluruh penjuru mata angin telah di lewatinya, namun tak ada satupun titik yang membuatnya puas. Kekosongan makin senyap, sampai ada suara yang menyapanya. Ada orang lain disana. “Sedang apa kau disini anak muda?” tanya seseorang. Rupanya ada seorang kakek tua. “Apa yang kau risaukan..?” Anak muda itu menoleh ke samping, “Aku lelah Pak Tua. Telah berkilo-kilo jarak yang kutempuh untuk mencari kebahagiaan, namun tak juga kutemukan rasa itu dalam diriku. Aku telah berlari melewati gunung dan lembah, tapi tak ada tanda kebahagiaan yang hadir dalam diriku. Kemana kah aku harus mencarinya? Bilakah kutemukan rasa itu?” Kakek Tua duduk semakin dekat, mendengarkan dengan penuh perhatian. Di pandangnya wajah lelah di depannya. Lalu, ia mulai bicara, “di depan sana , ada sebuah taman. Jika kamu ingin jawaban dari pertanyaanmu, tangkaplah seekor kupu-kupu buatku. Mereka berpandangan. “Ya…tangkaplah seekor kupu-kupu buatku dengan tanganmu” sang Kakek mengulang kalimatnya lagi. Perlahan pemuda itu bangkit. Langkahnya menuju satu arah, taman. Tak berapa lama, dijumpainya taman itu. Taman yang yang semarak dengan pohon dan bunga-bunga yang bermekaran. Tak heran, banyak kupu-kupu yang berterbangan disana. Sang kakek, melihat dari kejauhan, memperhatikan tingkah yang diperbuat pemuda yang sedang gelisah itu. Anak muda itu mulai bergerak. Dengan mengendap-endap, ditujunya sebuah sasaran. Perlahan. Namun, Hap! sasaran itu luput. Di kejarnya kupu-kupu itu ke arah lain. Ia tak mau kehilangan buruan. Namun lagi-lagi. Hap!. Ia gagal. Ia mulai berlari tak beraturan. Diterjangnya sana-sini. Ditabraknya rerumputan dan tanaman untuk mendapatkan kupu-kupu itu. Diterobosnya semak dan perdu di sana . Gerakannya semakin liar. Adegan itu terus berlangsung, namun belum ada satu kupu-kupu yang dapat ditangkap. Sang pemuda mulai kelelahan. Nafasnya memburu, dadanya bergerak naik-turun dengan cepat. Sampai akhirnya ada teriakan, “Hentikan dulu anak muda. Istirahatlah. ” Tampak sang Kakek yang berjalan perlahan. Tapi lihatlah, ada sekumpulan kupu-kupu yang berterbangan di sisi kanan-kiri kakek itu. Mereka terbang berkeliling, sesekali hinggap di tubuh tua itu. “Begitukah caramu mengejar kebahagiaan? Berlari dan menerjang? Menabrak-nabrak tak tentu arah, menerobos tanpa peduli apa yang kau rusak?” Sang Kakek menatap pemuda itu. “Nak, mencari kebahagiaan itu seperti menangkap kupu-kupu. Semakin kau terjang, semakin ia akan menghindar. Semakin kau buru, semakin pula ia pergi dari dirimu.” “Namun, tangkaplah kupu-kupu itu dalam hatimu. Karena kebahagiaan itu bukan benda yang dapat kau genggam, atau sesuatu yang dapat kau simpan. Carilah kebahagiaan itu dalam hatimu. Telusuri rasa itu dalam kalbumu. Ia tak akan lari kemana-mana. Bahkan, tanpa kau sadari kebahagiaan itu sering datang sendiri.” Kakek Tua itu mengangkat tangannya. Hap, tiba-tiba, tampak seekor kupu-kupu yang hinggap di ujung jari. Terlihat kepak-kepak sayap kupu-kupu itu, memancarkan keindahan ciptaan Tuhan. Pesonanya begitu mengagumkan, kelopak sayap yang mengalun perlahan, layaknya kebahagiaan yang hadir dalam hati. Warnanya begitu indah, seindah kebahagiaan bagi mereka yang mampu menyelaminya. *** Mencari kebahagiaan adalah layaknya menangkap kupu-kupu. Sulit, bagi mereka yang terlalu bernafsu, namun mudah, bagi mereka yang tahu apa yang mereka cari. Kita mungkin dapat mencarinya dengan menerjang sana-sini, menabrak sana-sini, atau menerobos sana-sini untuk mendapatkannya. Kita dapat saja mengejarnya dengan berlari kencang, ke seluruh penjuru arah. Kita pun dapat meraihnya dengan bernafsu, seperti menangkap buruan yang dapat kita santap setelah mendapatkannya. Namun kita belajar. Kita belajar bahwa kebahagiaan tak bisa di dapat dengan cara-cara seperti itu. Kita belajar bahwa bahagia bukanlah sesuatu yang dapat di genggam atau benda yang dapat disimpan. Bahagia adalah udara, dan kebahagiaan adalah aroma dari udara itu. Kita belajar bahwa bahagia itu memang ada dalam hati. Semakin kita mengejarnya, semakin pula kebahagiaan itu akan pergi dari kita. Semakin kita berusaha meraihnya, semakin pula kebahagiaan itu akan menjauh. Cobalah temukan kebahagiaan itu dalam hatimu. Biarkanlah rasa itu menetap, dan abadi dalam hati kita. Temukanlah kebahagiaan itu dalam setiap langkah yang kita lakukan. Dalam bekerja, dalam belajar, dalam menjalani h id up kita. Dalam sedih, dalam gembira, dalam sunyi dan dalam riuh. Temukanlah bahagia itu, dengan perlahan, dalam tenang, dalam ketulusan hati kita. Saya percaya, bahagia itu ada dimana-mana. Rasa itu ada di sekitar kita. Bahkan mungkin, bahagia itu “hinggap” di hati kita, namun kita tak pernah memperdulikannya. Mungkin juga, bahagia itu berterbangan di sekeliling kita, namun kita terlalu acuh untuk menikmatinya.

Next Page »