Tak terasa perjalana Ramadhan kali ini mencapai usia yang ke 23 bagiku,, dan khusus tahun ini memasuki hari ke 23. Ramadhan ke-6 di kota Bandung dan Ramadhan ke 9 yang kuliewati tanpa ada keluarga di sekelilingku. Ramadhan di perantauan selalu memberi warna tersendiri, darimenikmati dinginnya sahur bersama rekan sekosan atau buka bersama dengan rekan-rekan sejawat, termasuk di antaranya berlomba-lomba dalam suasana ibadah yang memang lebih berasa saat kita bersama sahbat-sahabat yang lain.

Ramadhan tahun ini mungkinkurasa agak berbeda, warna aktifitasku mulai seragam sehingga dinamikanya pun berkesan monoton, dan waktu pun terasa lebih mudah diatur. Ya, semoga gelombang kejenuhan tidak melanda dalam sisa 10 (atau 9 ya?) hari terakhir di bulan ini.

yang menarik yang kuperhatikan adalah banyaknya rekan-rekan di dunia maya yang mulai gemar menulis,,ada yang berikrar one day one note,,ada yang warna note-nya berubah..(tapi aku koq males nulis ya,hehe) cukup inspiratif sih memang, memberi warna tersendiri bagi orang-orang yanghidup di dua dunia..

Notes yang kubaca terakhir malam ini mungkin slah satu notes yang memberi kesan mendalam, bukan hanya masalah isinya saja tapi juga merasakan sebuah romantisme yang berbeda tentang dunia tulismenulis,,berikut saya petikkan:

Ketika Kakek terdiam agak lama, aku menyelakan tanyaku. “Ia katakan Kakek begitu, Kek?””Ia tak mengatakan aku terkutuk. Tapi begitulah kira-kiranya.”Dan aku melihat mata Kakek berlinang. Aku jadi belas kepadanya. Dalam hatiku aku mengumpati Ajo Sidi. Tapi aku lebih ingin mengetahui apa cerita Ajo Sidi yang begitu memukuli hati Kakek. Dan ingin tahuku menjadikan aku nyinyir bertanya. Dan akhirnya Kakek bercerita lagi.

“Pada suatu waktu,’ kata Ajo Sidi memulai, ‘di akhirat Tuhan Allah memeriksa orang-orang yang sudah berpulang. Para malaikat bertugas di samping-Nya. Di tangan mereka tergenggam daftar dosa dan pahala manusia. Begitu banyak orang yang diperiksa. Maklumlah di mana-mana ada perang. Dan di antara orang-orang yang diperiksa itu ada seorang yang di dunia dinamai Haji Saleh. Haji Saleh itu tersenyum-senyum saja, karena ia sudah begitu yakin akan dimasukkan ke surga. Kedua tangannya ditopangkan di pinggang sambil membusungkan dada dan menekurkan kepala ke kuduk. Ketika dilihatnya orang-orang yang masuk neraka, bibirnya menyunggingkan senyum ejekan. Dan ketika ia melihat orang yang masuk surga, ia melambaikan tangannya, seolah hendak mengatakan ‘selamat ketemu nanti’. Bagai tak habis-habisnya orang yang berantri begitu panjangnya. Susut di muka, bertambah yang di belakang. Dan Tuhan memeriksa dengan segala sifat-Nya.

Akhirnya sampailah giliran Haji Saleh. Sambil tersenyum bangga ia menyembah Tuhan. Lalu Tuhan mengajukan pertanyaan pertama.

‘Engkau?”

Aku Saleh. Tapi karena aku sudah ke Mekah, Haji Saleh namaku.

”Aku tidak tanya nama. Nama bagiku, tak perlu. Nama hanya buat engkau di dunia.

”Ya, Tuhanku.

”Apa kerjamu di dunia?

”Aku menyembah Engkau selalu, Tuhanku.

”Lain?

”Setiap hari, setiap malam. Bahkan setiap masa aku menyebut-nyebut nama-Mu.

”Lain?

”Segala tegah-Mu kuhentikan, Tuhanku. Tak pernah aku berbuat jahat, walaupun dunia seluruhnya penuh oleh dosa-dosa yang dihumbalangkan iblis laknat itu.

”Lain?

”Ya, Tuhanku, tak ada pekerjaanku selain daripada beribadat menyembah-Mu, menyebut-nyebut nama-Mu. Bahkan dalam kasih-Mu, ketika aku sakit, nama-Mu menjadi buah bibirku juga. Dan aku selalu berdoa, mendoakan kemurahan hati-Mu untuk menginsafkan umat-Mu.

”Lain?’

Haji Saleh tak dapat menjawab lagi. Ia telah menceritakan segala yang ia kerjakan. Tapi ia insaf, bahwa pertanyaan Tuhan bukan asal bertanya saja, tentu ada lagi yang belum dikatakannya. Tapi menurut pendapatnya, ia telah menceritakan segalanya. Ia tak tahu lagi apa yang harus dikatakannya. Ia termenung dan menekurkan kepalanya. Api neraka tiba-tiba menghawakan kehangatannya ke tubuh Haji Saleh. Dan ia menangis. Tapi setiap air matanya mengalir, diisap kering oleh hawa panas neraka itu.

‘Lain lagi?’ tanya Tuhan.

‘Sudah hamba-Mu ceritakan semuanya, o, Tuhan yang Mahabesar, lagi Pengasih dan Penyayang, Adil dan Mahatahu.’ Haji Saleh yang sudah kuyu mencobakan siasat merendahkan diri dan memuji Tuhan dengan pengharapan semoga Tuhan bisa berbuat lembut terhadapnya dan tidak salah tanya kepadanya.

Tapi Tuhan bertanya lagi: ‘Tak ada lagi?

”O, o, ooo, anu Tuhanku. Aku selalu membaca Kitab-Mu.

”Lain?

”Sudah kuceritakan semuanya, o, Tuhanku. Tapi kalau ada yang aku lupa katakan, aku pun bersyukur karena Engkaulah yang Mahatahu.

”Sungguh tidak ada lagi yang kaukerjakan di dunia selain yang kauceritakan tadi?

”Ya, itulah semuanya, Tuhanku.

”Masuk kamu.

‘Dan malaikat dengan sigapnya menjewer Haji Saleh ke neraka. Haji Saleh tidak mengerti kenapa ia dibawa ke neraka. Ia tak mengerti apa yang dikehendaki Tuhan daripadanya dan ia percaya Tuhan tidak silap.

Alangkah tercengang Haji Saleh, karena di neraka itu banyak teman-temannya di dunia terpanggang hangus, merintih kesakitan. Dan ia tambah tak mengerti dengan keadaan dirinya, karena semua orang yang dilihatnya di neraka itu tak kurang ibadatnya dari dia sendiri. Bahkan ada salah seorang yang telah sampai empat belas kali ke Mekah dan bergelar syekh pula. Lalu Haji Saleh mendekati mereka, dan bertanya kenapa mereka dinerakakan semuanya. Tapi sebagaimana Haji Saleh, orang-orang itu pun, tak mengerti juga.

‘Bagaimana Tuhan kita ini?’ kata Haji Saleh kemudian, ‘Bukankah kita disuruh-Nya taat beribadat, teguh beriman? Dan itu semua sudah kita kerjakan selama hidup kita. Tapi kini kita dimasukkan-Nya ke neraka.

”Ya, kami juga heran. Tengoklah itu orang-orang senegeri dengan kita semua, dan tak kurang ketaatannya beribadat,’ kata salah seorang di antaranya.

‘Ini sungguh tidak adil.

”Memang tidak adil,’ kata orang-orang itu mengulangi ucapan Haji Saleh.

‘Kalau begitu, kita harus minta kesaksian atas kesalahan kita.

”Kita harus mengingatkan Tuhan, kalau-kalau Ia silap memasukkan kita ke neraka ini.

”Benar. Benar. Benar.’ Sorakan yang lain membenarkan Haji Saleh.

‘Kalau Tuhan tidak mau mengakui kesilapan-Nya, bagaimana?’ suatu suara melengking di dalam kelompok orang banyak itu.

‘Kita protes. Kita resolusikan,’ kata Haji Saleh.

‘Apa kita revolusikan juga?’ tanya suara yang lain, yang rupanya di dunia menjadi pemimpin gerakan revolusioner.

‘itu tergantung pada keadaan,’ kata Haji Saleh.

‘Yang penting sekarang, mari kita berdemonstrasi menghadap Tuhan.

”Cocok sekali. Di dunia dulu dengan demonstrasi saja, banyak yang kita peroleh,’ sebuah suara menyela.

‘Setuju. Setuju. Setuju.’ Mereka bersorak beramai-ramai.

Lalu mereka berangkatlah bersama-sama menghadap Tuhan. Dan Tuhan bertanya, ‘Kalian mau apa?’Haji Saleh yang jadi pemimpin dan juru bicara tampil ke depan. Dan dengan suara yang menggeletar dan berirama indah, ia memulai pidatonya: ‘O, Tuhan kami yang Mahabesar. Kami yang menghadap-Mu ini adalah umat-Mu yang paling taat beribadat, yang paling taat menyembah-Mu. Kamilah orang-orang yang selalu menyebut nama-Mu, memuji-muji kebesaran-Mu, memprogandakan keadilan-Mu, dan lain-lainnya. Kitab-Mu kami hafal di luar kepala kami. Tak sesat sedikit pun kami membacanya. Akan tetapi, Tuhanku yang Mahakuasa setelah kami Engkau panggil kemari, Engkau masukkan kami ke neraka. Maka sebelum terjadi hal-hal yang tak diingini, maka di sini, atas nama orang-orang yang cinta pada-Mu, kami menuntut agar hukuman yang Kaujatuhkan kepada kami ditinjau kembali dan memasukkan kami ke surga sebagaimana yang Engkau janjikan dalam kitab-Mu.’

‘Kalian di dunia tinggal di mana?’ tanya Tuhan.

‘Kami ini adalah umat-Mu yang tinggal di Indonesia, Tuhanku.

”O, di negeri yang tanahnya subur itu?

”Ya benarlah itu, Tuhanku.

”Tanahnya yang mahakaya raya, penuh oleh logam, minyak, dan berbagai bahan tambang lainnya, bukan?

”Benar. Benar. Benar. Tuhan kami. Itulah negeri kami.’

Mereka mulai menjawab serentak. Karena fajar kegembiraan telah membayang di wajahnya kembali. Dan yakinlah mereka sekarang, bahwa Tuhan telah silap menjatuhkan hukuman kepada mereka itu.

‘Di negeri di mana tanahnya begitu subur, hingga tanaman tumbuh tanpa ditanam?

”Benar. Benar. Benar. Itulah negeri kami.

”Di negeri, di mana penduduknya sendiri melarat?

”Ya. Ya. Ya. Itulah dia negeri kami.

”Negeri yang lama diperbudak orang lain?

”Ya, Tuhanku. Sungguh laknat penjajah itu, Tuhanku.

”Dan hasil tanahmu, mereka yang mengeruknya, dan diangkut ke negerinya, bukan?

”Benar, Tuhanku. Hingga kami tak mendapat apa-apa lagi. Sungguh laknat mereka itu.

”Di negeri yang selalu kacau itu, hingga kamu dengan kamu selalu berkelahi, sedang hasil tanahmu orang lain juga yang mengambilnya, bukan?

”Benar, Tuhanku. Tapi bagi kami soal harta benda itu kami tak mau tahu. Yang penting bagi kami ialah menyembah dan memuji Engkau.’

‘Engkau tetap rela melarat, bukan?

”Benar. Kami rela sekali, Tuhanku.

”Karena kerelaanmu itu, anak cucumu tetap juga melarat, bukan?

”Sungguhpun anak cucu kami itu melarat, tapi mereka semua pintar mengaji. Kitab-Mu mereka hafal di luar kepala.

”Tapi seperti kamu juga, apa yang disebutnya tidak dimasukkan ke hatinya, bukan?

‘Ada, Tuhanku.

”Kalau ada, kenapa engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua. Sedang harta bendamu kaubiarkan orang lain mengambilnya untuk anak cucu mereka. Dan engkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri, saling menipu, saling memeras. Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. Sedang aku menyuruh engkau semuanya beramal kalau engkau miskin. Engkau kira aku ini suka pujian, mabuk disembah saja, hingga kerjamu lain tidak memuji-muji dan menyembahku saja. Tidak. Kamu semua mesti masuk neraka. Hai, Malaikat, halaulah mereka ini kembali ke neraka. Letakkan di keraknya!’

Semua pucat pasi tak berani berkata apa-apa lagi. Tahulah mereka sekarang apa jalan yang diridai Allah di dunia. Tapi Haji Saleh ingin juga kepastian apakah yang dikerjakannya di dunia itu salah atau benar. Tapi ia tak berani bertanya kepada Tuhan. Ia bertanya saja pada malaikat yang menggiring mereka itu.

‘Salahkah menurut pendapatmu, kalau kami, menyembah Tuhan di dunia?’ tanya Haji Saleh.

‘Tidak. Kesalahan engkau, karena engkau terlalu mementingkan dirimu sendiri. Kau takut masuk neraka, karena itu kau taat bersembahyang. Tapi engkau melupakan kehidupan kaummu sendiri, melupakan kehidupan anak istrimu sendiri, sehingga mereka kucar-kacir selamanya.

Inilah kesalahanmu yang terbesar, terlalu egoistis. Padahal engkau di dunia berkaum, bersaudara semuanya, tapi engkau tak mempedulikan mereka sedikitpun.’ ”

Demikianlah cerita Ajo Sidi yang kudengar dari Kakek. Cerita yang memurungkan Kakek.Dan besoknya, ketika aku mau turun rumah pagi-pagi, istriku berkata apa aku tak pergi menjenguk.

“Siapa yang meninggal?” tanyaku kaget.

“Kakek.”

“Kakek?”

“Ya. Tadi subuh Kakek kedapatan mati di suraunya dalam keadaan yang mengerikan sekali. Ia menggoroh lehernya dengan pisau cukur.”

“Astaga! Ajo Sidi punya gara-gara,” kataku seraya cepat-cepat meninggalkan istriku yang tercengang-cengang.

Yup, kisah di atas adalah potongan dari kisah roman Rubuhnya Surau Kami (AA.Navis-1956) yang kemrin malam diangkat lagi oleh Wisya Anjaya dalam sebuah notes yang cukup menarik.

Tiap tulisan pasti memberi kesan tersendiri, dan kesanku pada notes ini adlaah yup, Ramadhan ini tepat jatuh pada bulan kemerdekaan, bahkan layaknya 64 tahun yang lalu, hari kemerdekaan RI juga diproklamirkan pada bulan Ramadhan, layaknya tahun ini, dan pada cerita penggalan tersebut hal yang menarik adlah bagaimana ‘perkataan’ Tuhan yang menyebutkan bahwa ternyata hidup tidak melulu hanya ibadah vertikal saja, tapi juga yang sifatnya horizontal kepada sekeliling kita. entah itu suatu hal yang ‘benar’ ato gak tapi cukup make sense, bukannya Islam adlah Rahmatan lil alamin?

Dan momentum Ramadhan di bulan kemerdekaan ini membuat kita (seharusnya) membuka mata, bahwa kesalehan individu itu berbanding lurus dengan kesalehan sosial. Wallahu a’lam.

Advertisements