Ketika tawaran pendakian Gede mampir ke notif fb-ku aku sempat berpikir,,ini gak main-main. aku tahu kemampuan diri fisik dan stamina. Dan dapat kusimpulkan aku takut. Rasanya aku gak sanggup.

Aku gak takut mati. Aku hanya takut tersiksa. Dan perjalanan ke gunung tentu menyiksa. segala macam sugesti sudah kumasukkan, puncak yang indah, perjalanan yang menantang dan apapunlah..tetap saja aku takut. cemen emang.

tapi aku berangkat.

tepat 07.00 pagi kami ber-6 sudah tiba di terminal Leuwi Panjang, Bandung..hiruk pikuk terminal di pagi hari terasa menyenangkan. apalagi saat dikejar kernet bus untuk masuk ke dalam bisnya,,lucu. pukul 07.30, Kami naek bus jurusan Cipanas (Bandung-Merak/Bandung-Jakarta via puncak), tarif 15ribu. perjalanan sekitar 3 jam cukup menyenangkan, pemandangan perbukitan di kaki Gede Pangrango menyejukkan mata. dan pukul 10.45 kami tiba di Cipanas, turun tepat setelah istana Cipanas. Kemudian berganti naek angkot warna kuning ke arah gunung putri, harus pinter nyari n nawar tentunya,,alhamdulillah dapet 5ribu/orang.

Jalur yang kami ambil adalah jalur gn.putri, sbenarnya ada 2 jalur lagi yaitu via cibodas dan via (koq lupa ya?) tapi diputuskan kami lewat gn.putri. berdasar info, jalur gn.putri relatif lebih singkat sekitar 3-5jam dibanding jalur cibodas yang panjang. kemiringan?silakan diitung dengan rumus phytagoras 😀

Pukul 11.00, setelah offroad naek angkot gak jelas..tiba di pos laporan gn.putri,,kami beli bekal makan siang dulu untuk nanti dimakan di tengah perjalanan. pukul 11.30 berangkat dan tiba di pos GPO (Gede-Pangrango Operation) untuk melapor ulang. dan dari sinilah perjalanan dimulai. 30 menit pertama perjalanan diisi dengan pemandangan Carre*our terbesar alias sawah sayuran, tapi medannya udah cukup lumayan,langsung nanjak terus. Buat yg gag biasa kek saya rasanya jantung mulai berdebar kencang, peluh bercucuran n mungkin kram perut kyk ditusuk2 😀 yah mo gimana lagi..uda kepalang basah. Dan dimulailah perjalanan memasuki rimba lereng Gede.

Rasa takut mulai muncul,teman di depan masih terlihat, tapi debar jantung dan letih ini hampir meledak rasanya. ya Allah..apa aku sanggup? seperti yg kuduga, aku tercecer di belakang,.(ada yg belakang lagi c,hehe) sungguh olahraga ini bukan hanya melatih fisik tapi juga mental, bagaimana mengalahkan diri sendri, tidak memanjakan dalam lelah karena jalan masih jauh dan semakin terjal. Bukan melangkah untuk mengejar ketertinggalan rekan di depan atau sekedar mengejar puncak atau titik singgah tertentu atau target kedatangan. Tapi benar2 mengarahkan diri sendiri, itu saja. Dan segala cara dilakukan untuk memainkan pikiran, sugesti, positif,atau apapunlah namanya.. apa aku menang?

Pukul 17.05..alun2 suryakencana!subhanallah,,sebuah pemandangan luar biasa,lapangan luas yang ditumbuhi edelweis..di seberang tampak kumpulan awan..bagai sebuah negeri di atas awan!mentari tampak malu kembali ke peraduannya diiringi semburat cahaya jingga..indah!

Kami bermalam di Suryakencana, tenda dome untuk 6 orang dengan susah payah kami dirikan :D, kompor parafin pun dinyalakan, menu nasi kornet dan mi instan disajikan, menu sederhana yang sbnernya berasa agak aneh, tapi ntah knapa licin tandas 😀 dan malam itu ditutup dengan sruputan STMJ dan bandrek di tengah dinginnya malam.

Pukul 04.00, suara alarm membuyarkan lelapku,,sungguh lelap yang gak nikmat..entah kenapa aku menggigil semalaman..mungkin sudah mau dicabut.hanya merapal asma Allah hingga tiba2 kuterpejam. pagi buta ini angin bertiup kencang,diinringi kabut tebal kami melangkah ke puncak Gede, tenda dan peralatan kami tinggal. sebuah di gelapnya jalan berbatu terjal. Medan ke puncak Gede sebenarnya relatif sama dengan trek gn.putri-suryakencana, tapi gelap menambah kesulitan tersendiri. seperti yg kuduga aku tercecer di belakang (termasuk ada urusan non-teknis sih :p )

Pukul 05.45…Puncak Gede di depan mata…entah mengapa aku merasa biasa saja. berdiri di depan kawah dengan suasana kabut tebal dan hujan diiringi angin kencang, sungguh bukan suasana puncak yang kuimpikan. Shubuh di Puncak Gede lebih mengharubiru,sambil merapal Ar-Rahman kuterpejam, bukankah ini nikmat Allah yg tidak akan terdustakan? Bukan mentarinya, bukan awannnya, bukan kawahnya. Tapi kerja kerasnya dan pantang menyerah. sekecil apapun langkahmu.

Persiapan turun gunung agak sedikit berat karena harus sarapan-packing dalam kondisi hujan lebat disertai angin kencang. Hangatnya indomie rebus yang langsung dimakan diatas kompor serasa masih tidak bisa mengalahkan dingin yang menusuk. pukul 11.45, pemanasan dilakukan di tengah hujan, dan kami turun. jangan lupa sampah dikumpulin n dibawa pulang, jgn buang di gunung! Turun gunung memang lebih cepat tapi tetap menguras tenaga. gak sebesar pas naik sih, tapi harus berhati-hti dengan licinnya medan.

tepat 3 jam kami sudah sampai di pos GPO Gn.Putri… aku melihat ke belakang..dan aku berpikir..rasanya tak mungkin aku ada di ujungnya 3 jam yang lalu. Tapi aku tidak sedang bermimpi. setelah melapor,jam16.00 kami pamit turun, untung masih ada angkot lewat dr gn,putri ke cipanas,,shingga kami bisa segera turun. di cipanas isi perut dulu sambil menunggu bis jurusan bandung sampai pukul 17.30…dan akhirnya sampai Leuwi Panjang sekitar 20.15.

Masih takut naik gunung?aku jawab: IYA,masih takut. Gunung mungkin ketakutan terbesarku dalam menaklukkan alam, tapi aku punya sebuah cerita bahwa aku pernah (dan tentu saja BISA) menaklukkanmu kawan..

dedicated to: Gumilar Rahmat, Rihan Handaulah, Army Farhanna, Monterico Adrian, Oding Aminudin

Advertisements